Bintang ‘Memakan’ Lubang Hitam Lalu Meledak — Bukti Baru Evolusi Kosmik yang Mengejutkan

Dalam penemuan yang mengguncang dunia astrofisika, ilmuwan untuk pertama kalinya berhasil menangkap fenomena yang selama ini hanya ada dalam teori: sebuah bintang menelan lubang hitam, lalu meledak dengan kekuatan supernova. Fenomena ini disebut para peneliti sebagai “kanibalisme kosmik”, karena memperlihatkan bagaimana bintang besar dapat menghancurkan dirinya sendiri setelah menelan objek kompak yang sangat padat.



Peristiwa ini pertama kali terdeteksi melalui pengamatan gabungan antara teleskop radio Very Large Array (VLA) di New Mexico dan sistem pengawasan langit optik Zwicky Transient Facility (ZTF) di California. Hasil analisis spektrum cahaya dan energi menunjukkan bahwa ini bukan supernova biasa. Pancaran energi yang sangat kuat, disertai ledakan radio yang tidak lazim, menjadi tanda bahwa sesuatu yang luar biasa sedang terjadi di dalam jantung bintang itu.

Prosesnya dimulai ketika sebuah bintang raksasa yang telah menua mulai kehilangan kestabilannya. Di dalam sistem biner, bintang tersebut memiliki pasangan berupa lubang hitam atau bintang neutron. Karena tarikan gravitasi yang luar biasa kuat, objek kompak ini perlahan-lahan meluruh ke dalam atmosfer bintang raksasa. Saat lubang hitam memasuki lapisan luar bintang, material panas dari atmosfer tertarik membentuk piringan akresi di sekelilingnya. Energi dari gesekan dan tekanan ekstrem pada piringan itu menciptakan panas luar biasa hingga jutaan derajat, mengeluarkan sinar-X dan pancaran radio yang kuat.

Ketika lubang hitam semakin dalam, ia mencapai inti bintang dan menyebabkan ketidakseimbangan fatal. Dalam waktu singkat, inti bintang kolaps akibat gangguan gravitasi besar, menghasilkan gelombang kejut yang menembus seluruh lapisan luar bintang. Terjadilah ledakan supernova yang menghancurkan bintang itu sepenuhnya, sementara di pusatnya, lubang hitam baru terbentuk—lebih besar dan lebih kuat daripada sebelumnya.

Peristiwa ini merupakan bukti nyata pertama bahwa kematian bintang bisa dipicu oleh interaksi ekstrem dengan objek kompak, bukan hanya karena kehabisan bahan bakar nuklir seperti yang selama ini dipercaya. Selama puluhan tahun, astronom menduga bahwa supernova hanya terjadi karena reaksi nuklir di inti bintang berhenti bekerja. Namun penemuan ini menunjukkan bahwa gravitasi juga bisa menjadi “pemicu kematian” bintang, bahkan dengan cara yang jauh lebih brutal.

Sinyal radio yang terekam oleh VLA menunjukkan pola energi yang khas dari jet relativistik—aliran partikel berkecepatan tinggi yang ditembakkan dari piringan akresi di sekitar lubang hitam. Data optik dari ZTF juga memperlihatkan peningkatan kecerahan yang sangat cepat sebelum kemudian meredup secara drastis. Perubahan intensitas cahaya ini membedakannya dari supernova konvensional yang biasanya meredup secara perlahan.

Peristiwa luar biasa ini memberikan pandangan baru tentang bagaimana lubang hitam bermassa menengah terbentuk di alam semesta. Sebelumnya, para ilmuwan hanya mengenal dua kategori besar lubang hitam: lubang hitam bintang yang massanya sekitar sepuluh kali massa Matahari, dan lubang hitam supermasif yang massanya jutaan hingga miliaran kali lebih besar. Lubang hitam bermassa menengah menjadi misteri karena jarang sekali teramati. Fenomena bintang yang menelan lubang hitam ini tampaknya bisa menjadi salah satu cara terbentuknya kelas lubang hitam tersebut.

Simulasi komputer menunjukkan bahwa ketika lubang hitam memasuki inti bintang, energi gravitasi yang dilepaskan setara dengan miliaran kali energi bom hidrogen. Tekanan ekstrem itu mengubah elemen-elemen kimia di dalam bintang dan menghasilkan gelombang kejut yang menyapu seluruh struktur bintang. Dalam proses ini, sebagian besar energi dilepaskan dalam bentuk gelombang radio dan sinar-X, sedangkan sebagian kecil memancar sebagai cahaya optik yang bisa terdeteksi teleskop.

Menariknya, fenomena ini juga memberi petunjuk tentang asal-usul beberapa ledakan kosmik misterius yang sebelumnya sulit dijelaskan, seperti “fast blue optical transients” atau ledakan optik biru cepat. Jenis ledakan ini menampakkan lonjakan cahaya yang sangat cepat, warna kebiruan intens, dan meredup dalam hitungan hari—semua karakteristik yang mirip dengan hasil pengamatan pada kasus bintang yang menelan lubang hitam ini.

Fenomena ini juga memiliki implikasi besar dalam kosmologi. Jika peristiwa semacam ini cukup umum terjadi di galaksi-galaksi lain, maka prosesnya bisa menjadi salah satu mekanisme penting dalam penyebaran unsur-unsur berat ke ruang antarbintang. Unsur seperti besi, nikel, dan kobalt yang kita temukan di planet-planet mungkin berasal dari supernova jenis ini, hasil “kematian” bintang yang sangat energik.

Bagi para ilmuwan, temuan ini juga membuka peluang untuk memahami bagaimana sistem bintang biner berevolusi. Dalam banyak kasus, dua bintang yang terbentuk berdekatan dapat saling memengaruhi orbit dan massanya. Salah satunya mungkin berakhir sebagai bintang neutron atau lubang hitam lebih dulu, sementara pasangannya masih dalam fase aktif. Saat orbit keduanya makin rapat karena kehilangan energi melalui gelombang gravitasi, terjadilah interaksi destruktif seperti fenomena ini.

Apa yang membuat peristiwa ini sangat langka adalah kesulitannya untuk diamati. Ledakan hanya berlangsung beberapa minggu dan sebagian besar energi dipancarkan dalam bentuk gelombang gravitasi atau neutrino, bukan cahaya. Hanya bila jet energi mengarah tepat ke Bumi, barulah kita bisa melihatnya secara langsung. Dari ribuan supernova yang terdeteksi setiap tahun, mungkin hanya satu atau dua yang berasal dari proses penelanan semacam ini.

Dalam studi yang dipublikasikan di Science, tim menggunakan data observasi multi-spektrum untuk memverifikasi hipotesis mereka. Gelombang radio dari VLA menunjukkan tanda-tanda khas akresi, sedangkan data sinar-X dari teleskop ruang angkasa menguatkan bahwa terjadi pemanasan ekstrem di inti bintang. Semua bukti tersebut menyatu untuk menggambarkan skenario yang sebelumnya hanya ada dalam simulasi komputer: bintang menelan lubang hitam dan meledak karena tekanan gravitasi internal.

Penemuan ini juga menjadi sinyal bagi misi observasi masa depan. Dengan hadirnya teleskop generasi baru seperti Vera Rubin Observatory dan James Webb Space Telescope, para ilmuwan berharap dapat menangkap lebih banyak peristiwa serupa. Pengamatan lanjutan bisa membantu menentukan seberapa sering proses ini terjadi dan seberapa besar kontribusinya terhadap pembentukan lubang hitam di seluruh alam semesta.

Di sisi teoretis, fenomena ini juga membantu menjembatani kesenjangan antara dua konsep besar dalam fisika: relativitas umum dan fisika bintang. Kedua konsep ini sering kali sulit dipadukan karena beroperasi pada skala dan kondisi yang berbeda. Peristiwa ekstrem seperti ini memberikan kesempatan untuk menguji hukum gravitasi pada kondisi ekstrem yang tak bisa direplikasi di Bumi.

Secara filosofis, peristiwa bintang menelan lubang hitam ini mengingatkan kita bahwa kematian di alam semesta tidak selalu berarti akhir. Dari kehancuran lahirlah bentuk kehidupan baru. Ketika bintang itu meledak dan hancur, ia meninggalkan warisan berupa lubang hitam baru yang mungkin kelak menjadi pusat sistem bintang lain. Alam semesta adalah siklus tanpa henti antara penciptaan dan kehancuran, dan fenomena ini menjadi salah satu bukti paling nyata dari keseimbangan kosmik itu.

Dalam analogi sederhana, bintang yang menelan lubang hitam ibarat seseorang yang menelan racun yang mematikan. Ia tidak hanya membinasakan dirinya sendiri, tapi juga menciptakan kekuatan baru dari dalam. Dalam konteks kosmik, kekuatan itu bukan kematian murni, melainkan transformasi energi yang membentuk kembali struktur ruang dan waktu di sekitarnya.

Para ilmuwan kini bersemangat untuk melanjutkan riset ini. Mereka yakin bahwa semakin banyak peristiwa serupa ditemukan, semakin lengkap pula peta evolusi bintang dan lubang hitam yang dapat mereka susun. Mungkin di masa depan, kita akan memahami bahwa alam semesta bukanlah ruang hampa yang tenang, melainkan arena dinamis penuh kekerasan, keindahan, dan siklus abadi.

Fenomena bintang menelan lubang hitam ini bukan hanya penemuan ilmiah, melainkan juga pengingat akan betapa kecilnya manusia di tengah jagat raya yang tak terhingga. Di ruang hampa yang dingin dan sunyi, peristiwa luar biasa seperti ini terus berlangsung tanpa henti, menjaga keseimbangan antara kehancuran dan kelahiran. Dalam setiap ledakan supernova, ada cerita tentang akhir dan awal yang baru.

Daftar Referensi

Mann, Adam. (2021). Astronomers may have seen a star gulp down a black hole and explode. Science News.
Coughlin, E. et al. (2021). Science, Vol. 373, Issue 6560.
National Radio Astronomy Observatory (NRAO) – Very Large Array Data Archive.
Zwicky Transient Facility (ZTF) Optical Transient Survey.
NASA Astrophysics Data System – Hydrodynamical Modeling of Stellar Core Collapse.
Northwestern University Center for Interdisciplinary Astrophysics.
Rubin Observatory (LSST) – Transient Object Catalog (2025).


Previous Post Next Post