Jurassic Data: Teknologi DNA Storage dari MIT yang Bisa Simpan Data Digital Ribuan Tahun di Suhu Ruang

Bayangkan jika seluruh arsip digital manusia — dari film, musik, hingga hasil penelitian ilmiah — dapat disimpan dalam sebuah butir kecil seukuran gula. Ide yang tampak seperti fiksi ilmiah ini kini menjadi kenyataan berkat inovasi ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Terinspirasi oleh adegan ikonik dalam film Jurassic Park di mana nyamuk purba terperangkap dalam amber (getah fosil), para peneliti menciptakan sistem penyimpanan data berbasis DNA yang dikurung dalam bahan mirip amber.


Penelitian ini berangkat dari keterbatasan media penyimpanan konvensional seperti hard disk, SSD, atau pita magnetik. Semua memiliki umur terbatas dan rentan rusak oleh suhu serta kelembapan. Sebaliknya, DNA menawarkan kepadatan luar biasa — satu gram DNA dapat menyimpan hingga 215 petabyte data — dan memiliki ketahanan alami ribuan tahun jika disimpan dengan benar. Tantangannya selama ini adalah menjaga stabilitas DNA tanpa pendingin ekstrem dan biaya penyintesisannya yang mahal.

Solusi inovatif MIT hadir melalui metode yang mereka sebut T-REX (Thermoset-REinforced Xeropreservation). Sistem ini menggunakan polimer mirip kaca yang berfungsi seperti amber buatan untuk melindungi DNA dari degradasi. Polimer tersebut didesain agar bisa diuraikan kembali sehingga data dapat diambil kapan saja tanpa merusak struktur aslinya. Para peneliti bahkan menyimpan lagu tema Jurassic Park dan sebagian genom manusia ke dalam sistem ini untuk membuktikan kelayakannya. Setelah seminggu dalam suhu tinggi dan kelembapan 70 %, data berhasil dipulihkan secara utuh — menunjukkan daya tahan luar biasa dari metode ini.

Amber sintetis tersebut bekerja seperti kapsul waktu digital. Ia mengunci molekul DNA dari oksidasi, radiasi UV, dan kelembapan. Secara kimiawi, material ini serupa dengan plastik polistirena, namun memiliki titik lemah molekuler yang memungkinkan proses pembongkaran dan perakitan kembali DNA tanpa kerusakan. Inilah keunggulan utama dibanding metode penyimpanan DNA konvensional yang biasanya memerlukan suhu beku −80 °C. Dengan teknologi baru ini, penyimpanan bisa dilakukan di suhu ruang, hemat energi, dan praktis.

Dari sisi efisiensi, DNA memiliki keunggulan eksponensial. File digital yang disimpan dalam DNA tidak hanya lebih kecil tetapi juga bebas dari kerusakan magnetik atau mekanis. Bahkan jika teknologi komputer berubah, DNA akan tetap menjadi bentuk data universal yang dapat dibaca kembali oleh generasi ilmuwan di masa depan. Ilmuwan MIT memperkirakan, sistem ini berpotensi digunakan untuk menyimpan arsip sejarah, data medis, hingga misi luar angkasa di mana kondisi ekstrem menuntut penyimpanan jangka panjang tanpa pendingin.

Meski demikian, tantangan masih besar. Biaya sintesis dan pembacaan DNA masih tinggi, serta proses penulisan data memerlukan waktu lebih lama dibanding penyimpanan digital biasa. Namun, dengan kemajuan teknologi bioteknologi, harga sintesis DNA terus menurun drastis dari tahun ke tahun — mirip dengan hukum Moore pada dunia komputasi. Jika tren ini berlanjut, penyimpanan berbasis DNA bisa menjadi solusi berkelanjutan untuk krisis data global.

Menariknya, penelitian ini juga memperlihatkan bagaimana batas antara bioteknologi dan informatika semakin kabur. DNA bukan lagi hanya “kode kehidupan”, tetapi juga “kode informasi”. Dalam konteks ilmiah, inovasi ini membuka peluang bagi kolaborasi multidisiplin antara ahli biologi, kimiawan polimer, dan insinyur data. Dalam konteks filosofis, teknologi ini mengajak manusia merenungkan: apakah kita kini sedang menulis kembali sejarah digital kita ke dalam bentuk paling alami dari kehidupan itu sendiri?

Konsep “Jurassic Data” ini memiliki daya tarik populer karena menyatukan imajinasi sinema dengan realitas laboratorium. Jika dalam film Jurassic Park amber berfungsi mengawetkan gen dinosaurus selama jutaan tahun, kini amber sintetis berfungsi mengawetkan memori manusia dalam bentuk data digital. Perpaduan ini menjadikan sains tidak hanya relevan tetapi juga puitis — menunjukkan bahwa inspirasi dapat datang dari mana saja, bahkan dari dunia fiksi.

Bagi dunia pendidikan STEM, riset ini merupakan contoh sempurna penerapan lintas bidang: kimia dalam pembuatan polimer, biologi molekuler dalam manipulasi DNA, dan teknologi informasi dalam penyandian data digital. Siswa dapat belajar bahwa inovasi besar sering lahir di pertemuan antara imajinasi dan disiplin ilmu.

Ke depan, teknologi DNA storage mungkin akan menjadi fondasi “perpustakaan abadi” umat manusia. Bayangkan arsip peradaban — dari karya seni klasik hingga data genom seluruh spesies di Bumi — tersimpan aman di dalam mikrotetes DNA, siap diwariskan ke generasi masa depan tanpa khawatir hilang. Dunia digital akan kembali bersatu dengan dunia biologis, menutup lingkaran evolusi informasi dari sel hingga server.

Ketika para ilmuwan MIT menamai sistem mereka T-REX, itu bukan sekadar akronim teknis. Ini adalah simbol bahwa dari inspirasi fosil purba lahir teknologi masa depan. Dalam arti tertentu, dinosaurus memang kembali hidup — bukan dalam bentuk daging dan darah, tetapi sebagai inspirasi ilmiah yang membentuk peradaban digital baru.

Referensi:
Dhar, P. (2024, July 15). Jurassic Park’s amber-preserved dino DNA is now inspiring a way to store data. Science News. Retrieved from https://www.sciencenews.org/article/jurassic-park-amber-dna-data

Previous Post Next Post