Albert Einstein dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh sepanjang masa. Teori relativitas umum yang ia rumuskan pada tahun 1915 telah mengubah cara manusia memandang ruang, waktu, dan gravitasi. Dalam teori itu, Einstein mengusulkan konsep yang kemudian dikenal sebagai konstanta kosmologi, sebuah istilah yang awalnya ia tambahkan untuk menjaga agar alam semesta tetap statis—karena pada masa itu, para ilmuwan belum mengetahui bahwa alam semesta sedang mengembang. Namun, ketika Edwin Hubble menemukan bahwa galaksi-galaksi menjauh satu sama lain, Einstein menyesali penambahan konstanta tersebut dan menyebutnya sebagai “kesalahan terbesar dalam hidupnya.” Ironisnya, istilah itu kini menjadi pusat salah satu misteri terbesar dalam kosmologi modern: energi gelap.
Selama beberapa dekade terakhir, para ilmuwan percaya bahwa energi gelap adalah bentuk energi misterius yang mendorong percepatan ekspansi alam semesta. Dalam model standar kosmologi yang disebut Lambda-CDM (ΛCDM), energi gelap diasumsikan sebagai konstanta—tidak berubah sepanjang waktu. Lambda (Λ) dalam model ini mewakili konstanta kosmologi Einstein, yang dianggap sebagai energi vakum dengan nilai tetap di seluruh ruang angkasa. Dengan kata lain, energi gelap adalah gaya “tak terlihat” yang memperluas ruang dan mempercepat jarak antar galaksi. Namun kini, penelitian terbaru menunjukkan bahwa energi gelap mungkin tidak konstan seperti yang diperkirakan sebelumnya.
Temuan ini mengejutkan dunia ilmiah. Berdasarkan hasil terbaru dari Dark Energy Survey (DES) dan Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI), para peneliti dari University of Chicago menemukan bukti bahwa energi gelap berubah seiring waktu. Dalam artikel yang diterbitkan di Physical Review D, para astrofisikawan seperti Josh Frieman, Anowar Shajib, dan koleganya mempresentasikan model baru yang menunjukkan bahwa kepadatan energi gelap mungkin menurun sekitar sepuluh persen dalam beberapa miliar tahun terakhir. Jika benar, hal ini mengguncang dasar teori kosmologi yang selama ini kita yakini.
Studi ini menggunakan data dari ribuan galaksi dan supernova yang diamati melalui survei kosmologis berskala besar. DES dan DESI memetakan distribusi galaksi di seluruh alam semesta dengan tingkat ketelitian yang belum pernah ada sebelumnya. Dari pola pergerakan dan jarak antar galaksi, para ilmuwan dapat mengekstrak “riwayat ekspansi” alam semesta. Ketika data tersebut dibandingkan dengan model energi gelap konstan, muncul ketidaksesuaian kecil namun signifikan. Model dengan energi gelap yang sedikit menurun dari waktu ke waktu justru lebih cocok dengan data observasi.
Menurut Frieman, perubahan ini bukanlah sesuatu yang ekstrem. Energi gelap tidak serta-merta hilang atau berubah total, melainkan menurun perlahan seiring usia alam semesta. Analogi yang digunakan adalah seperti bola yang menggelinding di permukaan yang hampir datar: tampak diam dari kejauhan, tetapi sebenarnya bergerak sedikit demi sedikit. Perubahan kecil inilah yang dapat menjelaskan beberapa anomali dalam data pengamatan.
Untuk memahami fenomena ini, para fisikawan mengembangkan teori yang dikenal sebagai model energi gelap dinamis, atau disebut juga quintessence. Dalam model ini, energi gelap bukanlah properti tetap dari ruang vakum, melainkan hasil dari suatu medan energi atau partikel hipotetik yang berubah secara perlahan. Salah satu kandidat yang sering diajukan adalah aksion, partikel ultra-ringan yang sudah lama diprediksi oleh teori tetapi belum pernah terdeteksi secara langsung. Aksion dianggap memiliki sifat yang memungkinkan energi gelap berfluktuasi seiring waktu tanpa mengganggu kestabilan alam semesta.
Jika energi gelap benar-benar menurun, implikasinya terhadap nasib alam semesta sangat menarik. Selama ini ada beberapa skenario akhir yang dibayangkan oleh kosmolog. Pertama adalah Big Rip, di mana energi gelap terus meningkat hingga akhirnya merobek setiap struktur di alam semesta—dari galaksi hingga atom. Skenario kedua adalah Big Crunch, di mana gravitasi suatu hari mengalahkan energi gelap dan menarik seluruh materi kembali ke satu titik padat. Namun dengan hasil penelitian terbaru ini, muncul kemungkinan ketiga: Big Freeze. Dalam skenario ini, energi gelap tetap ada tetapi melemah perlahan. Alam semesta akan terus mengembang tanpa batas, namun semakin dingin dan kosong. Bintang-bintang padam, galaksi menjadi samar, dan pada akhirnya hanya kegelapan abadi yang tersisa.
Menariknya, ide bahwa energi gelap bisa berubah seiring waktu bukanlah hal baru sepenuhnya. Beberapa fisikawan teoretis telah mengusulkan model dinamis sejak awal 2000-an, tetapi sulit dibuktikan karena memerlukan data observasi dalam jumlah sangat besar dan presisi tinggi. Kini, dengan teknologi teleskop dan instrumen baru seperti DESI, data yang dikumpulkan jauh lebih lengkap dan akurat. DESI, misalnya, mampu mengamati lebih dari 30 juta galaksi dan quasar, memetakan struktur besar alam semesta dengan resolusi tiga dimensi. Dari situlah muncul pola-pola kecil dalam kecepatan ekspansi yang tampaknya mengindikasikan perubahan energi gelap.
Meskipun hasil ini menggoda, para ilmuwan masih berhati-hati dalam menarik kesimpulan. Dalam dunia kosmologi, sinyal sebesar 99,6% masih memerlukan konfirmasi tambahan sebelum bisa dianggap sebagai bukti kuat. Kesalahan sistematik, bias observasi, dan asumsi model harus dianalisis lebih lanjut. Namun, semakin banyak data yang dikumpulkan dari berbagai sumber—termasuk pengamatan supernova, latar belakang gelombang mikro kosmik (CMB), dan pengukuran lensa gravitasi—semakin konsisten pula pola yang muncul. Semua ini mengarah pada satu kemungkinan besar: energi gelap berevolusi.
Bila demikian, pertanyaan besar pun muncul: apakah Einstein benar-benar salah? Jawabannya tidak sesederhana itu. Einstein tidak pernah secara eksplisit menyatakan bahwa konstanta kosmologi harus tetap selamanya. Ia menambahkan istilah itu agar teorinya sesuai dengan pengamatan pada zamannya. Dalam konteks sekarang, mungkin justru gagasan Einstein tentang “konstanta” adalah langkah awal menuju pemahaman yang lebih dalam tentang sifat ruang itu sendiri. Mungkin bukan konstanta yang keliru, tetapi cara kita memahaminya yang perlu diperluas.
Beberapa fisikawan bahkan menganggap bahwa energi gelap bisa menjadi jembatan antara teori relativitas umum dan fisika kuantum. Dalam teori kuantum medan, ruang hampa tidak benar-benar kosong; ia dipenuhi fluktuasi energi yang muncul dan lenyap secara acak. Nilai energi vakum ini, jika dihitung secara teoritis, jauh lebih besar daripada nilai yang diamati di alam semesta—perbedaan yang dikenal sebagai cosmological constant problem. Jika energi gelap memang berubah seiring waktu, hal itu bisa menjadi petunjuk bahwa alam semesta sedang mencari keseimbangan antara dua dunia: relativistik dan kuantum.
Riset lanjutan kini difokuskan pada survei masa depan seperti Vera Rubin Observatory’s Legacy Survey of Space and Time (LSST), yang akan mulai beroperasi pada akhir dekade ini. Observatorium ini diharapkan menghasilkan katalog miliaran galaksi, memberikan peta waktu yang sangat detail tentang evolusi kosmik. Dengan data selengkap itu, para kosmolog berharap dapat menjawab dengan pasti apakah energi gelap benar-benar dinamis ataukah fenomena ini hanya kebetulan statistik sementara.
Bagi banyak ilmuwan, terlepas dari hasil akhirnya, penelitian ini menunjukkan bahwa sains tidak pernah berhenti bergerak. Setiap kali kita merasa sudah memahami alam semesta, selalu muncul pertanyaan baru yang mengguncang fondasi pengetahuan lama. Hal yang sama terjadi ketika teori Newton “dikoreksi” oleh Einstein, dan kini mungkin giliran Einstein yang perlu “diperluas” oleh generasi baru fisikawan kosmologi.
Lebih dari sekadar perdebatan akademis, perubahan paradigma ini menyentuh pertanyaan filosofis mendalam: apakah alam semesta memiliki tujuan, arah, atau bahkan kesadaran? Jika energi gelap yang mengendalikan ekspansi ruang dapat berubah, mungkin alam semesta sendiri bukan entitas statis, melainkan sesuatu yang hidup, bernafas, dan berevolusi. Dalam skala kosmik yang luar biasa besar, perubahan sekecil apa pun dalam energi dapat menentukan masa depan seluruh eksistensi.
Mungkin suatu hari nanti kita akan menemukan bahwa energi gelap hanyalah manifestasi dari hukum fisika yang lebih tinggi, sesuatu yang belum mampu dijelaskan oleh relativitas maupun mekanika kuantum. Atau mungkin justru penemuan ini akan membuka jalan bagi teori gravitasi baru yang lebih lengkap, menyatukan seluruh kekuatan fundamental alam semesta.
Untuk saat ini, satu hal yang pasti: energi gelap tetap menjadi misteri terbesar dalam kosmologi. Kita tahu ia ada, karena pengaruhnya terlihat dalam cara galaksi saling menjauh dengan percepatan yang terus meningkat. Tetapi apa hakikat sebenarnya, mengapa ia berubah, dan bagaimana masa depannya—semua masih menjadi teka-teki. Dan seperti biasa dalam dunia sains, setiap jawaban hanya membawa kita pada pertanyaan yang lebih besar.
Einstein pernah berkata, “Hal yang paling tak dapat dipahami tentang alam semesta adalah kenyataan bahwa ia dapat dipahami.” Mungkin inilah bukti betapa dalamnya kalimat itu. Meski pemahamannya kini kembali diuji, warisan intelektual Einstein tetap menjadi fondasi dari setiap lompatan pengetahuan baru. Energi gelap boleh jadi berubah, tapi semangat manusia untuk memahami alam semesta tidak pernah berhenti berevolusi.
Daftar Referensi
Frieman, J., & Shajib, A. (2025, October 31). Is Einstein’s Cosmological Constant Wrong? New Data Suggests Dark Energy Is Evolving. SciTechDaily.
Retrieved from https://scitechdaily.com/is-einsteins-cosmological-constant-wrong-new-data-suggests-dark-energy-is-evolving/Abbott, T. M. C., Abdalla, F. B., Allam, S., Amara, A., Annis, J., Bechtol, K., ... & Dark Energy Survey Collaboration. (2022). Dark Energy Survey Year 3 Results: Cosmological Constraints from Galaxy Clustering and Weak Lensing. Physical Review D, 105(2), 023520.
https://doi.org/10.1103/PhysRevD.105.023520DESI Collaboration. (2024). The Early Data Release of the Dark Energy Spectroscopic Instrument (DESI). The Astrophysical Journal Letters, 951(1), L1.
https://doi.org/10.3847/2041-8213/acd3d3Perlmutter, S., Aldering, G., Goldhaber, G., Knop, R. A., Nugent, P., Castro, P. G., ... & Supernova Cosmology Project. (1999). Measurements of Ω and Λ from 42 High-Redshift Supernovae. The Astrophysical Journal, 517(2), 565–586.
https://doi.org/10.1086/307221Riess, A. G., Filippenko, A. V., Challis, P., Clocchiatti, A., Diercks, A., Garnavich, P. M., ... & Huchra, J. P. (1998). Observational Evidence from Supernovae for an Accelerating Universe and a Cosmological Constant. The Astronomical Journal, 116(3), 1009–1038.
https://doi.org/10.1086/300499Copeland, E. J., Sami, M., & Tsujikawa, S. (2006). Dynamics of Dark Energy. International Journal of Modern Physics D, 15(11), 1753–1936.
https://doi.org/10.1142/S021827180600942XPeebles, P. J. E., & Ratra, B. (2003). The Cosmological Constant and Dark Energy. Reviews of Modern Physics, 75(2), 559–606.
https://doi.org/10.1103/RevModPhys.75.559Weinberg, S. (1989). The Cosmological Constant Problem. Reviews of Modern Physics, 61(1), 1–23.
https://doi.org/10.1103/RevModPhys.61.1Vera C. Rubin Observatory. (2025). Legacy Survey of Space and Time (LSST) Overview. Retrieved from https://www.lsst.org
NASA. (2023). Dark Energy, Dark Matter: The Mystery of the Universe’s Expansion. Retrieved from https://science.nasa.gov/astrophysics/focus-areas/what-is-dark-energy
ESA (European Space Agency). (2023). Euclid Mission: Mapping the Geometry of the Dark Universe. Retrieved from https://www.esa.int/Science_Exploration/Space_Science/Euclid
