Selama puluhan tahun terakhir, hidup dengan HIV identik dengan pengobatan seumur hidup. Pengidap harus rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ART), kadang setiap hari, untuk menjaga agar virus tidak berkembang biak — tetapi jarang, bahkan nyaris tidak pernah, bisa benar-benar hilang. Kini, pada tahun 2025, harapan muncul bahwa HIV bisa dikontrol jangka panjang tanpa minum obat terus-menerus — berkat terobosan dalam uji klinis menggunakan antibodi yang direkayasa.
Dari Obat Seumur Hidup ke Remisi Jangka Panjang
Tradisionalnya, pengobatan HIV fokus pada menekan replikasi virus. ART mampu menahan virus sehingga jumlahnya di darah berada di bawah deteksi — asalkan obat dijalani terus menerus. Tapi begitu obat dihentikan, virus sering kali bangkit kembali karena HIV tinggal “tersembunyi” di dalam sel-sel, membentuk apa yang disebut sebagai “reservoir laten”.
Itulah mengapa sejumlah upaya riset beralih: tidak sekadar menekan virus, tetapi mengaktifkan sistem kekebalan tubuh agar bisa mengambil alih peran, menjaga HIV tetap terkendali bahkan setelah penghentian obat. Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa skenario ini — yang dulu terasa seperti mimpi — mungkin bukan sekedar harapan lagi.
Dua dari uji klinis paling menjanjikan tahun ini disebut sebagai tonggak awal: di Afrika Selatan (disebut “FRESH trial”) dan di Eropa — Inggris serta Denmark (disebut “RIO trial”). Pada FRESH trial, empat dari 20 peserta berhasil mempertahankan virus bawah ambang deteksi selama rata-rata 1,5 tahun tanpa ART. Sementara di RIO trial, enam dari 34 peserta tetap menjaga kontrol virus setidaknya dua tahun setelah pemberian antibodi.
Hasil ini membuka mata bahwa tubuh manusia, dengan dorongan dari antibodi yang tepat, dapat mengendalikan HIV sendiri — mirip seperti orang-orang langka yang disebut “elite controllers”, yang secara alami mampu mengendalikan virus tanpa pengobatan.
Bagaimana Terapi Ini Bekerja?
Kuncinya ada pada antibodi yang direkayasa — disebut antibodi “broadly neutralizing antibodies (bNAbs)”. Berbeda dengan antibodi biasa yang hanya efektif terhadap satu varian virus, bNAbs mampu mengenali bagian virus yang sangat konservatif (jarang berubah), sehingga bisa melawan berbagai varian HIV.
Dalam uji-uji itu, para peneliti memberi suntikan antibodi yang sudah dimodifikasi agar bertahan lama — sekitar enam bulan — ke tubuh peserta. Setelah pemberian, mereka menghentikan ART dan memantau apakah virus bangkit kembali. Hasilnya: di sejumlah peserta, virus tetap “diam”, tanpa obat.
Lebih dari sekedar menutup aktivitas virus, antibodi ini sepertinya “mengajari” sistem imun — terutama sel-sel seperti CD8+ T, untuk mendeteksi dan menumpas sel yang terinfeksi HIV — memberikan semacam “memori imunologis”. Artinya: bahkan ketika antibodi itu sudah hilang, tubuh bisa melanjutkan kontrol virus secara sendiri.
Para peneliti kini bekerja keras mencari kombinasi antibodi paling ampuh, dosis optimal, dan strategi tambahan (misalnya memancing virus laten agar “muncul” supaya bisa diserang) — agar “remisi” ini bisa diterapkan lebih luas ke banyak orang.
Kenapa Ini Penting?
Bayangkan beban yang selama ini ditanggung pengidap HIV: harus minum obat setiap hari, dengan kemungkinan efek samping, biaya, serta stigma sosial. Bahkan dengan ART efektif, harapan hidup mereka — meski nyaris mendekati normal — tetap sedikit lebih pendek dibanding orang tanpa HIV.
Jika pendekatan baru berlanjut dan terbukti aman serta efektif untuk banyak orang, ini bisa mengubah paradigma: dari perawatan seumur hidup menjadi remisi jangka panjang — kehidupan lebih normal, lebih mudah, tanpa obat terus menerus.
Secara global, ini juga punya potensi besar untuk menurunkan beban ekonomi dan sosial. Program pengobatan, distribusi obat, pengawasan kesehatan bisa jauh lebih ringan. Terlebih di negara-negara dengan sumber daya terbatas, di mana akses ke ART terkadang sulit.
Masih Ada Banyak yang Harus Dipahami
Meski hasil awal menggembirakan, para ilmuwan bersikap hati-hati. Uji-uji ini masih kecil — hanya segelintir orang — dan meskipun remisi sudah berlangsung 1–2 tahun pada sebagian peserta, itu belum menjamin kekebalan seumur hidup. Kemungkinan virus bisa bangkit kembali, kapan saja.
Lebih jauh lagi, HIV memiliki kelebihan besar: kemampuannya menyusup ke reservoir laten. Itu adalah sel-sel tersembunyi di tubuh yang tidak aktif secara virusik, sehingga luput dari keberadaan antibodi atau sistem imun. Menghapus reservoir ini — atau menjaganya tetap tidak aktif — adalah tantangan besar.
Itu sebabnya dalam komunitas ilmiah, istilah “functional cure” kadang diperdebatkan. Sebagian ahli menyebutnya “remisi yang dipicu terapi” — bukan penyembuhan sempurna.
Gelombang Harapan Baru — dan Tantangan di Depan
Bersamaan dengan hasil dari dua uji klinis besar 2025, ada pula kabar menarik dari studi lainnya. Misalnya laporan tentang transplantasi sel punca dengan mutasi genetik tertentu (seperti CCR5Δ32) yang menghasilkan remisi jangka panjang—sebuah jenis “functional cure” lain, walau metode transplantasi ini sangat berat dan tidak bisa diterapkan secara luas.
Di sisi yang lain, pendekatan genetik — seperti teknik pengeditan gen menggunakan CRISPR — terus dikembangkan untuk, satu hari, mencapai apa yang disebut “sterilizing cure”: menghapus HIV dari tubuh sepenuhnya. Namun jalan ke sana masih panjang, dengan banyak tantangan teknis dan etis.
Sementara itu, komunitas ilmuwan, dokter, dan pendukung hak pasien terus menyerukan agar harapan ini tetap realistis. Butuh uji lanjutan — dengan lebih banyak orang, durasi lebih panjang, serta pemahaman risiko — sebelum “functional cure” bisa dianggap sebagai solusi global.
Namun satu hal sudah jelas: pintu yang dulu tertutup rapat kini mulai terbuka. Demokratisasi akses terhadap pengobatan, pengurangan beban hidup, peluang remisi — semua bisa jadi nyata dalam satu dekade ke depan — jika komitmen riset, pendanaan, dan dukungan global terus terjaga.
Kesimpulan: Antara Optimisme dan Realitas
Terobosan tahun 2025 menunjukkan bahwa “penyembuhan” HIV tak lagi mustahil — setidaknya dalam bentuk remisi jangka panjang. Kombinasi antibodi rekayasa dan sistem imun sendiri sudah berhasil membawa sebagian orang ke titik di mana mereka tak perlu minum obat terus-menerus untuk sementara waktu.
Namun, keberhasilan ini datang dengan batasan dan tantangan. Tidak semua orang merespons dengan cara sama. Virus bisa bangkit lagi. Reservoir laten tetap mengintai. Kita belum tahu apakah hasil ini bisa direplikasi di semua populasi secara aman dan andal.
Yang bisa kita lakukan sekarang: menganggap ini sebagai harapan besar — sekaligus panggilan untuk mendukung riset, mendesak akses yang adil, dan terus menyuarakan bahwa hidup dengan HIV bukan hanya soal pengobatan, tetapi juga kualitas hidup, harapan, dan masa depan.
Referensi
“A 'functional cure' for HIV may be in reach, early trials suggest” — LiveScience / Knowable Magazine, 1 Desember 2025. Live Science
“New Trials Hint That ‘Functional Cure’ for HIV May Be Within Reach, Helping Some Patients Achieve Lasting Remission” — Smithsonian Magazine, Desember 2025. Smithsonian Magazine
“Turning HIV’s power against itself may help target hidden virus — another step towards cure” — Aidsmap, Oktober 2025. aidsmap.com
“Pharmacology Fuels Promising Steps Toward HIV Cure” — UCSF News, Desember 2025. pharmacy.ucsf.edu
“Initial Findings from IMC-M113V Trial for HIV Functional Cure Strategy Shows Potential” — Contagion Live, Maret 2025. contagionlive.com
“Sustained HIV-1 remission after heterozygous CCR5Δ32 stem cell transplantation” — Nature, Desember 2025. Nature
Zhang W. dkk., “Opportunities and challenges in achieving a functional cure in HIV” — Infectious Disease Journal, 2024. Lippincott Journals
P. Mundlia, dkk., “Current developments in HIV treatment and prevention” — 2025. ScienceDirect
“Curing HIV—How Far Have We Come?” — amfAR, 2025. amfAR, The Foundation for AIDS Research
Dubé K., dkk., “Re-examining the HIV 'functional cure' oxymoron: Time for nuance” — 2020. ScienceDirect
