Pada akhir 2024 dan sepanjang 2025, sebuah pertanyaan besar mulai mengemuka di arena ilmiah: Bisakah kecerdasan buatan (AI) bukan hanya membantu, tetapi benar-benar mengungguli matematikawan manusia dalam memecahkan masalah matematika yang paling sulit? Perdebatan ini bukan sekadar spekulatif — sejumlah prestasi baru telah menempatkan AI di wilayah yang dulunya tampak eksklusif milik kecerdasan manusia. Namun cerita di balik kemajuan ini lebih kompleks daripada sekadar headline heboh.
Dari Permainan Catur ke Teorema Matematika
Kemajuan AI dalam matematika bisa dilihat sebagai kelanjutan dari sejarah panjang keterlibatan komputer dengan logika dan strategi. Pada 1990-an, komputer seperti Deep Blue berhasil mengalahkan juara dunia catur Garry Kasparov — sebuah momen simbolis yang memperlihatkan bahwa mesin dapat menaklukkan kecerdasan manusia dalam arena berpikir yang terpahami dengan aturan ketat. Selanjutnya, kecerdasan buatan AlphaGo milik Alphabet mengalahkan juara dunia dalam permainan Go, game yang jauh lebih kompleks secara strategis.
Namun matematika tingkat tinggi tidak sekadar memainkan sebuah permainan dengan aturan yang diketahui. Matematika punya ruang tak berujung, di mana setiap konsep bisa diteruskan ke abstraksi yang lebih tinggi. Di sinilah tantangan sebenarnya muncul bagi AI.
AI dan “Masalah Mustahil”
Salah satu kejutan terbesar terjadi ketika model AI dari Meta (perusahaan induk Facebook) mengumumkan berhasil memecahkan jenis masalah tertentu yang telah lama menjadi teka-teki bagi para matematikawan — yakni menemukan fungsi-fungsi yang menentukan stabilitas sistem dinamis (Lyapunov functions). Meskipun pencapaian ini menarik perhatian publik, para ahli mencatat bahwa AI hanya berhasil menyelesaikan sekitar 10,1% dari masalah uji coba yang diberikan kepadanya, dan masih membutuhkan banyak intervensi manusia untuk sampai pada solusi yang benar.
Hal ini menegaskan satu hal penting: bukan hanya apakah AI bisa menemukan solusi, tetapi bagaimana ia sampai di solusi itu yang menentukan nilainya dalam dunia matematika yang ketat. Mesin masih sering “dipandu” oleh ahli agar tidak tersesat dalam algoritma yang kompleks.
Kemajuan yang Tidak Sekadar Angka
Tidak semua perkembangan AI dalam matematika sekadar soal persentase. Pada tahun 2025, dua model AI dari Google dan OpenAI berhasil meraih prestasi luar biasa di International Mathematical Olympiad (IMO), kompetisi matematika tingkat dunia untuk pelajar SMA. Kedua sistem itu memenangkan medali emas dengan menyelesaikan lima dari enam soal — pencapaian yang biasanya hanya bisa dicapai oleh pemikir muda jenius yang telah berlatih bertahun-tahun.
Namun, terlepas dari prestasi ini, para peneliti tetap berhati-hati. Model AI yang bersaing sering kali masih memerlukan bantuan manusia untuk menerjemahkan soal ke dalam bahasa yang bisa diproses komputer, atau mengatur strategi pencarian solusi yang efektif. Artinya, AI belum sepenuhnya mandiri — setidaknya tidak dalam konteks formal kompetisi seperti IMO.
AI dan Penemuan Konjektur
Selain menyelesaikan soal tertentu, AI juga mulai menunjukkan kemampuan untuk menemukan konjektur — hipotesis matematika yang belum terbukti. Misalnya, kolaborasi antara AI dan pakar topologi di Universitas Oxford menghasilkan serangkaian konjektur baru yang kemudian diuji lebih lanjut oleh para matematikawan. Meskipun beberapa konjektur tersebut ternyata keliru atau perlu perbaikan, proses ini membuka jendela baru: AI dapat membantu manusia mencari arah dalam dunia matematika yang luas.
Sebagai ilustrasi lain, Ramanujan Machine — sebuah perangkat lunak yang dinamai dari matematikawan legendaris Srinivasa Ramanujan — secara otomatis menghasilkan konjektur baru tentang konstanta matematika seperti Ï€ (pi) dan e (bilangan Euler). Beberapa di antaranya kemudian dibuktikan benar oleh para matematikawan.
Apakah AI Lebih “Cerdas”?
Sejauh ini, pandangan komunitas matematika terhadap kecerdasan AI cukup beragam. Ada yang berpandangan optimis, bahkan mengklaim bahwa sistem AI mungkin sudah mendekati atau setara dengan tingkat “gaya berpikir genius” matematikawan manusia, setidaknya dalam konteks tertentu. Namun pihak lain tetap skeptis, menunjuk pada fakta bahwa AI sering kali mengambil jawaban yang paling mungkin, bukan yang benar secara matematika, dan tanpa pemahaman mendalam tentang pembuktian atau konsep abstrak.
Salah satu kritik utama adalah bahwa model AI saat ini dilatih berdasarkan contoh-contoh yang telah ada, sehingga belum benar-benar mampu melakukan terobosan kreatif yang sepenuhnya baru dalam matematika — berbeda dari sekadar meniru atau memodifikasi pola yang sudah dikenalnya. Hal ini mirip dengan kritik terhadap AI dalam domain lain, seperti penulisan kreatif atau penemuan ilmiah.
Namun perkembangan terbaru juga menunjukkan bahwa batas tersebut mungkin mulai diserang. Contohnya, ada laporan tidak resmi bahwa sebuah sistem bernama Aristotle berhasil memecahkan problem matematika yang telah tak terselesaikan selama sekitar 30 tahun dalam beberapa jam. Meskipun klaim ini masih memerlukan verifikasi formal di jurnal peer-review, hal tersebut menunjukkan potensi AI untuk menghasilkan ide-ide baru yang signifikan.
AI di Dunia Pendidikan dan Penelitian
Penerapan AI dalam matematika bukan hanya sekadar tantangan teoritis. Di dunia pendidikan, AI sudah digunakan untuk membantu menyelesaikan soal matematika tingkat universitas, memberikan solusi, dan menjelaskan langkah-langkahnya secara rinci. Beberapa model bahkan dapat memecahkan soal yang setara dengan standar mahasiswa tingkat lanjut.
Di ranah penelitian, kolaborasi antara ahli matematika dan ilmuwan komputer semakin intens. Program seperti Lean — Proof Assistant digunakan untuk memformalkan bukti matematika secara terstruktur, yang kemudian dikombinasikan dengan kemampuan AI untuk mengusulkan strategi pembuktian baru. Model semacam ini bisa mempercepat validasi atau pembuktian teorema kompleks yang dulu membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Mengukur Batas AI Matematika
Untuk menilai sampai sejauh mana AI benar-benar memahami matematika, sejumlah benchmark telah dibuat. Salah satunya adalah FrontierMath, sekumpulan soal matematika tingkat tinggi yang dirancang khusus untuk menilai kemampuan logika dan pemecahan masalah mendalam. Rata-rata model AI saat ini masih hanya mampu menyelesaikan sebagian kecil soal di benchmark tersebut, menegaskan bahwa masih ada jurang besar antara kemampuan AI dan matematikawan profesional.
Ini menunjukkan dua hal. Pertama, bahwa AI telah mencapai tahap di mana ia bisa bersaing dalam konteks tertentu. Kedua, bahwa masih banyak area di mana pemikiran abstrak dan kreativitas manusia tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh algoritma pembelajaran mesin.
Apa Arti Semua Ini bagi Masa Depan Matematika?
Para ahli memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana AI akan membentuk masa depan matematika. Beberapa, seperti peraih Fields Medal Terence Tao, percaya bahwa dalam satu atau dua dekade ke depan, AI bisa membantu menyelesaikan ribuan konjektur yang kini terbuka, sehingga mempercepat penemuan ilmiah secara drastis. Ia memperkirakan bahwa kita mungkin akan melihat ratusan atau bahkan ribuan masalah matematika diselesaikan setiap tahunnya — suatu realitas yang tak terbayangkan sebelumnya.
Di sisi lain, banyak yang menekankan bahwa AI bukanlah pesaing langsung bagi matematikawan, melainkan mitra yang kuat. Seperti halnya komputer tidak menggantikan ahli fisika, AI akan memperluas jangkauan pemikiran manusia — bukan menggantikannya. Kritikus menekankan pentingnya pemahaman manusia dalam menilai, memverifikasi, dan menyampaikan hasil matematika, terutama karena kesalahan sekecil apa pun dapat berdampak besar dalam struktur logika matematika.
Kesimpulan: Revolusi Kolaboratif, Bukan Pengganti
Kemajuan AI dalam memecahkan masalah matematika memang spektakuler dan membuka babak baru dalam sejarah pengetahuan manusia. Mesin kini bukan hanya bisa menghitung atau menjalankan algoritma sederhana, tetapi juga membantu dalam penemuan ide-ide yang kompleks. Namun, keberhasilan ini tidak berarti AI siap mengungguli matematikawan manusia secara mutlak. Apa yang kita lihat sejauh ini lebih merupakan sebuah kolaborasi baru antara kecerdasan manusia dan mesin — suatu bentuk simbiosis yang bisa mempercepat laju penemuan dan pemahaman kita terhadap hukum-hukum abstrak yang mengatur realitas.
Daftar Referensi
AI is solving ‘impossible’ math problems. Can it best the world’s top mathematicians? LiveScience, 19 Desember 2025. Live ScienceGoogle and OpenAI’s AI models win milestone gold at global math competition — Reuters, 21 Juli 2025. Reuters
AI achieves silver-medal standard solving International Mathematical Olympiad problems — DeepMind blog, 25 Juli 2024. Google DeepMind
DeepSeek’s self-correcting AI model aces tough maths proofs — Nature, 2025. Nature
FrontierMath: A Benchmark for Evaluating Advanced Mathematical Reasoning in AI — arXiv, 2024. arXiv
Ramanujan Machine — Wikipedia. Wikipedia
Lean (proof assistant) — Wikipedia. Wikipedia
AI recently cracked a 30-year math problem — LinkedIn report.
